my life and style


Ringkasan Novel dan Film Laskar Pelangi Yang Fenomenal
November 8, 2008, 4:41 am
Filed under: Umum

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>Begitu banyak kisah yang terjadi pada kesepuluh tokoh dalam anggota Laskar Pelangi. Masing-masing individu yang ada memiliki karakter serta jalan hidup yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Mahar, ia bak setetes embun yang menyejukkan dianatara anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Karena diantara yang lain hanya Mahar lah yang memiliki karakter yang seru. Mahar adalah sosok anak yang periang, punya banyak ide, santai, cuek dan sangat berbakat dalam bidang seni terutama musik, namun tak ayal ide-ide briantnya membuat sahabat-sahabatnya anggota Laskar Pelangi berpandangan bahwa terkadang pola pikir Mahal tidak masuk akal atau tidak logis.

Suatu siang yang terik disaat teman-temannya sibuk memikirkan tugas sekolah. Mahar malah asyik dan santai mendengarkan musik lewat radio bututnya. Ia selalu menerawang berimajenasi bahwa suatau saat nanti ia akan menjadi seorang seniman yang terkenal. Teman-teman anggota Laskar Pelangi yang lain yakni Ikal dan Lintang hanya tersenyum geli melihat ulahnya tersebut. Tak ada hal lain yang dikerjakan Mahar selain berdendang diatas pohon favoritnya yakni pohon filicium. Seolah telah menjadi tempat tinggalnya sendiri, pohon itu telah memberikan inspirasi bagi seorang Mahar dalam menyalurkan bakatnya dalam bidang musik. Hingga suatu ketika sekolah SD Muhammadiyah tempatnya sekolah mendapatkan undangan untuk mengikuti lomba karnaval 17 Agustus. Dan pada saat itu lah mahar di percaya oleh Bu Mus sebagai sutradara atau ketua pelaksana untuk membuat ide prtunjukkan apa yang kan mereka hadirkan pada saat karnaval itu berlangsung.

Dengan perasaan senang serta antusiasme yang tinggi, Mahar menyanggupi perintah Bu Mus kepadanya. Ia sangat bergembira karena dengan hal itu, ia bisa mengwujudkan cita-citanya menjadi seorang seniman. Selang waktu berlalu dari perintah yang diembankan kepadanya tersebut, Mahar pun segera bertindak mengumpulkan ide-idenya. Teman-teman anggota Laskar Pelangi sempat berpikir Mahar menjadi sangat aneh semenjak ditugasi oleh Bu Mus sebagai ketua pelaksana. Karena mereka sering melihat Mahar melakukan gerakan aneh-aneh di lapangan dekat sekolah mereka itu. Selain itu Mahar pun sering melamun diatas pohon favoritnya, falicium yang rindang sambil mendengarkan radio.

Suatu hari diatas pohon filiciumnya, Mahar terlihat menerawang jauh kedahan-dahan pohon yang memilki daun-daun yang berukuran lebar. Seketika ia tersenyum seolah telah menemukan ide yang bagus untuk acara karnaval yang akan segera berlangsung itu. Maka disuatu dore yang indah ia mengajak teman-teman anggota Laskar Pelangi untuk mengikutinya kesebuah lapangan yang luas. Sontak teman-temannya tersebut binggung apa yang sebenarnya ingin Mahar lakukan terhadap mereka. Namun dengan senyum jenaka yang menjadi ciri khasnya Mahar hanya mengatakan bahwa mereka akan diajak berlatih tarian untuk lomba karnaval saat 17 Agustus nanti. Dengan perasaan yang masih binggung mau tak mau akhirnya teman-temannya pun mengikuti kemauan Mahar. Dengan senyum dan tawa tak tertahankan, Ikal, Lintang dan teman-teman Mahar lainnya merasa lucu dengan koreografi ciptaan Mahar. Bagaimana tidak jenis tarian yang mereka bawakan seperti mirip dengan tarian dari daerah Irian Jaya, sungguh menarik dan lucu. Namun meskipun sempat dikomentari oleh para temannya, Mahar tetap optimis dengan tarian tersebut. Ia yankin bahwa dia dan teman-temannya akan memenangkan lomba karnaval tersebut. Saat salah satu temannya bertanya mengenai kostum karnaval kepadanya, Mahar tersenyum dan santai. Ia mengatakan bahwa ia telah mempersiapkan kostum yang pas dengan tarian yang kan mereka bawakan. Ucapan Mahar tersebut membuat teman-temanya menjadi saling beradu pandang, karena sulit membayangkan kostum yang dimaksud oleh Mahar.

Hari karnaval pun telah tiba, SD PTN telah tampil secara memukau dengan tim Marcing Bandnya.Dari tahun sekolah milik pemerintah tersebut selalu memenangkan lomba karnaval. Mungkin itu disebabkan karna pemerintah selalu menyalurkan dana untuk melengkapi fasilitas disekolah tersebut berbeda dengan SD muhammadiyah di Belitong yang semraut dan tak terawat. Meskipun begitu di dalam hati dipertunjukkan karnaval itu bahwa sudah saatnya sekolah Muhammadiyah yang miskin ini menjadi mentari yang bersinar terik mengalahkan para peserta lomba yang lainnya, termasuk sekolah PTN yang elit itu.

Menjelang tampil tak lelahnya Mahar memberikan teman-temannya semangat, ia membagikan satu persatu daun-daun yang lebar. Ia mengatakan iau adalah kostum specialnya yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari untuk pertunjukkan karnaval. Meskipun agak pesismis namun teman-temannya menuruti saja untuk mengenakan kostum daun tersebut. Mereka pun berfikir untuk optimis dengan idenya Mahar yang sedikit aneh itu. Para anggota Laskar Pelangi pun tampil bak seorang penari daerah dari Irian Jaya. Muka mereka dicoreng-moreng dengan menggunakan arang hitam, badan mereka hanya ditutupi oleh lembaran daun-daun lebar.

Dengan sedikit aba-aba dari Mahar, maka semua tim penari itu pun rapi berbaris sesuai dengan gerakan yang mereka latih selama ini. Gerakan menggemaskan serta terkesan lucu dan konyol tersebut , membuat orang-orang yang menoton pertunjukan karnaval tertawa terpikal-pikal, Bu Mus terlihat kagum dengan lakon anak-anak muridnya tersebut. Terutama kepada Mahar, tak urung mata nya begitu berbinar mengingat bakat yang dimiliki anak didik itu.

Pengumuman lomba pun akhirnya tiba, tak disangka-sangka berkat tarian unik ciptaan Mahar SD Muhammadiyah keluar sebagai juara pertama mengalahkan SD PTN yang setiap tahunnya selalu memenangkan lomba karnaval. Mahar dan kawan-kawan tersenyum haru dan gembira saat mendengan pengumuman tersebut, tak henti-hentinya mereka bersorak riang. Bu Mus terlihat berkaca-kaca menahan haru, ia pun sangat bangga dengan prestasi pertama yang diraih oleh sekolah tempatnya mengajar itu.

Satu piala bergensi akhirnya disabet, pihak penyelenggara memberikan sebuah lemari untuk tempat menyimpan piala. Meskipun lemari tersebut tidak dapat ditutup karena kunci pintunya rusak, namun tetap saja membuat para anggota Laskar Pelangi tak bosan memandangi satu-satunya piala yang mereka miliki tersebut. Mahar pun kini setaraf dengan Lintang dan kawan-kawannya yang lain. Mampu mengembangkan dirinya sehingga berhasil mencapai prestasi yang sesuai dengan minat bakat yang dimiliki.

Bertahun-tahun sudah semenjak kejadian karnaval itu, kini anak-anak anggota Laskar Pelangi telah berajak dewasa. Ikal melajutkan pendidikannya ke Prancis karena ia mendapatkan beasiswa kesana, sedangkan Lintang terpaksa putus sekolah semenjak ayahnya meninggal saat melaut. Begitu pun nasib akhir dari Mahar, ternyata cita-citanya untuk menjadi seniman yang urung diwujudkannya karena ia pun tak bisa melajutkan sekolah, faktor biaya menjadi hambatannya. Nasib Mahar berakhir sebagai kuli pemarut kelapa.

Alasan saya memilih tokoh Mahar adalah karena ia merupakan anak yang kreatif, mampu membaca kondisi yang terjadi di lingkungannya. Selain itu ia anak yang tak kenal putus asa, memiliki ide-ide yang cemerlang dan mampu mengaplikasikannya secara sempurna. Ia pun memiliki motivasi untuk mengwujudkan cita-citanya menjadi seorang seniman, meskipun ia harus berbesar hati melepaskan niatnya tersebut karena harus putus ditegah jalan.

About these ads

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: